Prolog
Namanya Ian Navira. Dia tinggal di kampung bersama nenek sejak kelas 1 SD di rumah yang telah di bangun oleh bapaknya hasil keringat di tanah perantauan. Musim libur puasa kala itu kedua orang Ian mudik ke kampung halaman untuk menjenguk anak perempuan semata wayang mereka yang telah menduduki kelas 4 SD.
"Bapak, belikanlah aku HP Maxtron chibi," pinta Ian kepada bapaknya.
"Kan HP nokia mu masih bagus nak," sembari mengelus rambut anaknya.
HP Maxtron Chibi memang sedang trend di tahun itu. Ian yang ngefans berat kepada girlband cherrybelle itu tentu saja ingin memiliki barang ikonik dari idolanya. Kalau kata anak gen z sekarang Ian sedang fomo.
Tampaknya si bapak tak menyetujui permintaan Ian. Tak menyerah Ian berusaha merayu ibunya agar mau membelikan Ian HP maxtron. "Mama belikanlah aku HP maxtron!" bujuk Ian pada mama.
"Berapa memang harganya nak?"
Ian menggeleng tanda tak tau. "Kalau tidak dibelikan mama tidak usah saja ke Kalimantan!"
Mamanya tersenyum, "Tapi kalau sudah dibelikan HP baru, boleh kah sudah mama dan bapak pergi ke Kalimantan?"
Ian mengangguk dengan ragu. Sebenarnya sejak kedatangan orang tuanya di kampung, kalimat pertama yang Ian sampaikan kepada mereka adalah, "Tidak usah lagi ke Kalimantan ya ma,pak!"
Ian sudah tak tahan lagi terus menahan rindu jika berjauhan dengan orang tuanya. Dia memang terlihat begitu ceria menjalani hari di waktu siang. Mulai dari sekolah, bermain, ngedance cherrybelle bersama teman-temanya. Namun tak ada yang tahu jika di malam hari Ian kerap menangis sembunyi-sembunyi diatas bantal sebelum tidur. Foto mamanya yang dia pandangi sebelum tidur sebagai pengobat rindu. Baginya rindu itu berat tapi harus kuat karena kedua orang tuanya berjuang mencari nafkah untuk hidup yang layak dan cukup.
4 Minggu sudah lama kedua orang tua Ian di kampung. HP maxtron berwarna ungu juga telah ada ditangan Ian. Tapi, Ian masih berat hati untuk membiarkan bapak dan mamanya untuk kembali ke Kalimantan. Hatinya gusar, kali ini dia tak kuat akhirnya tangis nya pecah. Mama nya pun ikut menangis. Hati ibu mana yang tega meninggalkan anaknya jauh dari dekapannya.
Akhirnya bapak Ian mengambil keputusan untuk berangkat sendiri dulu ke tanah rantau, sang istri tetap tinggal di kampung sambil membujuk Ian agar memperbolehkan ibunya untuk pergi merantau lagi.
Seminggu kemudian setelah bapak Ian tiba di Kalimantan, Ian akhirnya mengizinkan ibunya.
"Iya boleh, tapi belikan mainan yah?" Ian memberikan syarat
"Ian mau mainan apa? Tapi besok mama boleh pergi yah?"
"Uang mainan," sembari mengangguk mengisyaratkan bahwa dia setuju.
Hari keberangkatan telah tiba, mobil penumpang yang akan menjemput ibu Ian tiba di malam hari setelah Isya. Keluarga berkumpul di rumah Ian untuk memberikan salam perpisahan. Namun, diluar dugaan semua orang yang ada disana. Seketika Ian ingin ikut bersama ibunya. Tak ada orang yang mampu membujuknya. Tante, nenek, om, sepupu-sepupunya berusaha membujuk tapi Ian tidak menghiraukan mereka. Dia menangis sejadi-jadinya. "MAU IKUT MAMAAAAA" sambil terisak-isak
Tidak ada pilihan lain, mobil jemputan telah datang tidak enak jika di cancel. Ibu Ian memutuskan membawa sang buah hati ikut bersamanya tanpa persiapan apapun. Semuanya terjadi diluar dugaan. Bahkan Ian tak sempat membawa banyak baju. Hanya insting ibu yang bekerja dengan baik. Baju pertama yang ibunya ingat untuk dimasukkan kedalam tas pakaian adalah baju sekolah Ian, baju yang lain hanya beberapa lembar saja bahkan ibu Ian mangambil asal saja dari laci baju Ian.
Semua keluarga begitu sayang dengan Ian. Isak tangis terdengar ramai apalagi nenek Ian yang menjaganya selama kedua orang tuanya merantau, sepupu terdekat Ian juga menangis sejadi-jadinya. Akan tetapi, Ian tetap pada pilihan ikut dengan mama. Tak ada yang mampu menghentikan.
Pada akhirnya takdir telah memutuskan perjalanan Ian selanjutnya. Inilah titik awal perjalanan panjang Ian yang tak pernah dia banyangkan sebelumnya. Memulai langkah baru yang sama sekali tidak ada dalam radar pikirannya.
Komentar
Posting Komentar