BAGIAN 1- TIBA DI TANAH RANTAU Kembali Ian mengulang perjalanan jauhnya melewati lautan yang luas selama kurang lebih 4 tahun lamanya dia tinggal di kampung halaman. Seperti dejavu bagi Ian. Terakhir kali Ian menaiki kapal pelni saat dia pulang dari Sabah, Malaysia. Bapak dan mamanya beberapa tahun yang lalu bekerja di sana. Sepanjang perjalanan menuju pelabuhan, Ian hanya memadangi rumput yang seolah berjalan cepat dari jendela kaca mobil. Dia tak banyak bicara. Ian lelah karena terlalu banyak menangis. Tenaganya terkuras, matanya sembab. Sebenarnya Ian sedang memikirkan neneknya sesekali air matanya keluar dari kelopak matanya, disaat yang bersamaan dia juga sigap menghapusnya. Dipandanginya sang mama yang sedang tertidur pulas. Ada perasaan lega disana. Ian sudah tak harus menahan rindu setiap harinya. Lalu bagaimana dengan sekolahnya? Mungkin beberapa bulan setelah melepas rindu dengan orang tuanya, Ian akan diantar kembali ke kampung. Itulah pikiran semua keluarga Ian saat itu. Ta...
Prolog Namanya Ian Navira. Dia tinggal di kampung bersama nenek sejak kelas 1 SD di rumah yang telah di bangun oleh bapaknya hasil keringat di tanah perantauan. Musim libur puasa kala itu kedua orang Ian mudik ke kampung halaman untuk menjenguk anak perempuan semata wayang mereka yang telah menduduki kelas 4 SD. "Bapak, belikanlah aku HP Maxtron chibi," pinta Ian kepada bapaknya. "Kan HP nokia mu masih bagus nak," sembari mengelus rambut anaknya. HP Maxtron Chibi memang sedang trend di tahun itu. Ian yang ngefans berat kepada girlband cherrybelle itu tentu saja ingin memiliki barang ikonik dari idolanya. Kalau kata anak gen z sekarang Ian sedang fomo. Tampaknya si bapak tak menyetujui permintaan Ian. Tak menyerah Ian berusaha merayu ibunya agar mau membelikan Ian HP maxtron. "Mama belikanlah aku HP maxtron!" bujuk Ian pada mama. "Berapa memang harganya nak?" Ian menggeleng tanda tak tau. "Kalau tidak dibelikan mama tidak usah saja ke Kali...