BAGIAN 1-TIBA DI TANAH RANTAU
Kembali Ian mengulang perjalanan jauhnya melewati lautan yang luas selama kurang lebih 4 tahun lamanya dia tinggal di kampung halaman. Seperti dejavu bagi Ian. Terakhir kali Ian menaiki kapal pelni saat dia pulang dari Sabah, Malaysia. Bapak dan mamanya beberapa tahun yang lalu bekerja di sana.
Sepanjang perjalanan menuju pelabuhan, Ian hanya memadangi rumput yang seolah berjalan cepat dari jendela kaca mobil. Dia tak banyak bicara. Ian lelah karena terlalu banyak menangis. Tenaganya terkuras, matanya sembab. Sebenarnya Ian sedang memikirkan neneknya sesekali air matanya keluar dari kelopak matanya, disaat yang bersamaan dia juga sigap menghapusnya.
Dipandanginya sang mama yang sedang tertidur pulas. Ada perasaan lega disana. Ian sudah tak harus menahan rindu setiap harinya. Lalu bagaimana dengan sekolahnya? Mungkin beberapa bulan setelah melepas rindu dengan orang tuanya, Ian akan diantar kembali ke kampung. Itulah pikiran semua keluarga Ian saat itu. Tapi tidak dengan Ian dia benar-benar memikirkan keduanya.
Setelah sekitar 5 jam lebih, akhirnya tibalah mereka di pelabuhan Nusantara pare-pare yang merupakan salah pelabuhan yang terbesar kedua setelah pelabuhan Soekarno Hatta yang ada di kota Makassar, Sulawesi Selatan. Ian melihat begitu banyak penjual yang menjajakan jualannya. Mulai dari penjual nasi goreng, minuman dingin, balon udara, boneka dan masih banyak lagi. Terkadang dari mereka ada yang memaksa untuk membeli bahkan mengikuti sampai naik ke kapal. Hal seperti itu lumrah terjadi di pelabuhan.
“Mau beli apa nak?” Tanya mama Ian
Ian menyisir satu persatu barang dagangan yang ada. Dari banyaknya yang di tangkap oleh mata Ian, dia hanya tertarik pada boneka beruang berwarna ungu. “Mama, aku mau beli boneka beruang itu.” Tanpa basa basi mama dan Ian menghampiri pedagang boneka tersebut lalu memberikan selembar uang 50 ribu. Sebenarnya harga boneka tersebut adalah 80 ribu. Tapi mama Ian adalah orang yang handal jika urusan tawar menawar. Jadi tak perlu diragukan lagi. Setelah membeli boneka dan beberapa botol air mineral Ian dan mamanya bergegas menaiki kapal.
Hamparan laut biru yang begitu luas, menjadi saksi langkah baru yang ditempuh Ian. Angin laut begitu berderu, rambut Ian beterbangan. Ian sedang berdiri di pagar pembatas kapal menikmati birunya laut. Matanya menatap takjub ombak yang menerjang kapal, tapi tetap bisa bertahan dan berjalan melanjutkan perjalanan. Sepertinya dia penasaran dengan cara kerja dunia. Wajar saja dia adalah anak-anak yang ingin tahu banyak hal.
Safar saat itu ditempuh selama 2 hari semalam. Ian dan mamanya menginap sehari di kapal kemudian lanjut menggunakan speed boat untuk menyeberang dari Tarakan menuju kabupaten Berau. Tidak sampai situ, untuk sampai ke tujuan harus menggunakan mobil lagi dengan jarak tempuh sekitar 5 jam. Ian benar-benar lelah untung saja dia tidak mabuk perjalanan.
Hal yang membuat Ian cukup ketakutan adalah ketika menaiki speed boat. Wajar saja karena Ian baru pertama kali. Badan Ian tergoncang-goncang sesekali percikan air laut mengenai wajah Ian. Ian benar-benar ketakutan. Ombak yang cukup kencang membuat speed boat sesekali terombang ambing. Ian menutup matanya sembari memeluk lengan mamanya.
1 jam 30 menit perjalan yang telah ditempuh akhirnya tibalah Ian di pelabuhan kayan II Tanjung Selor. Ian menghela napas panjang, “Huft… akhirnya”.
***
“Ma, ini masih jauhkah?” tanya Ian kepada mamanya saat singgah beristirahat di rest area
“Masih jauh nak, sekitar 4-5 jam lagi baru sampai.”
Ian menghela napas panjang “Berarti sampai rumah malam ya ma?.”
Mama Ian mengangguk.
Berkilo-kilo meter sudah perjalanan, Ian hanya melihat pemandangan hutan yang tinggi menjulang. Jarang sekali ada pemukiman penduduk yang dia dapati. Jalanannya pun berkelok-kelok bagi yang mabuk kendaraan pastilah akan muntah. Ian yang jarang mabuk kendaraan di buat mules perutnya di tambah lagi Ian habis minum minuman bersoda.
Ian dan mama akhirnya tiba di tujuan. Mereka tiba di malam hari setelah Isya. Tapi Ian tak melihat ada rumah disana. Lampu jalan pun tak ada, suasananya sangat gelap. Lagi-lagi Ian melihat hutan-hutan di sekelilingnya tapi kali ini jenis yang berbeda. Buah sawit yang bertumpuk sepertinya baru saja di panen dan diangkut keluar dari kebun juga menarik perhatian Ian. Satu lagi semacam jenis mobil yang baru pertama kali Ian lihat sebelum nya, bunyinya mirip mesin gilingan padi yang ada di kampung Ian.
Pak Ihsan, bapak Ian menyabut putri tercintanya dengan penuh suka cita. Matanya seolah-olah berbicara “selamat datang di tempat yang baru puri kecilku”. Ada beberapa orang disana. Paman Ian juga hadir menyambut kedatangan Ian. Bapak-bapak berbaju partai yang ada disana juga menyapa Ian dengan ramah. Mereka adalah para petani yang baru saja mengangkut sawit hasil panen nya keluar dari kebun menggunakan kendaraan semacam mobil itu.
“Oh ini yang namanya Ian, selamat datang nak di gunung kasiran”. Sapa bapak yang berbaju partai biru. Reaksi Ian malu-malu. Bapak Ian memang di panggil oleh rekan-rekan sesama petaninya dengan bapak Ian. Jadi mereka mengenal akrab nama Ian. Lalu gunung kasiran? Yah gunung kasiran adalah nama tempat itu. diberi nama gunung kasiran karena sebelum sampai di sana, ada sebuah jalan provinsi yang cukup menanjak dan tinggi yang dinamai gunung kasiran sehingga daerah disekitar jalanan tersebut dikenal dengan gunung kasiran.
Hujan baru saja selesai mengguyur tanah rantau. Jalanan terlihat sangat becek dan lengket karena jenis tanah di sana adalah tanah kuning. Ian dan mamanya berjalan kaki tanpa menggunakan sandal. Sedangkan bapaknya berusaha agar motor supra milik nya tembus masuk sampai kedalam. Barang-barang dari kampung diangkut menggunakan odong-odong pelangsir sawit. Namanya memang mirip seperti odong-odong yang ada di pasar malam. Tapi bukan odong-odong yang ada di pasar malam tersebut, melainkan mobil rakitan yang dikenal oleh orang-orang disana sebagai odong-odong.
Ian sedikit syok melihat keadaan yang menyabutnya, tak seperti yang dia pikirkan. Ian berpikir setelah 2 hari perjalanan yang panjang dia bisa melepas penat ketika sampai di rumah. Ternyata nihil, Ian harus berjalan kaki di gelapnya malam sejauh 2 kilometer. Di perjalanan menuju rumah Dia tak hanya diam membisu. Sembari memperhatikan di sekelilingya. Berjejer pohon kertas liar dan suara kicauan burung yang saling sahut menyahut.
BERSAMBUNG........
Komentar
Posting Komentar